STUDI
KONDISI DASAR PERAIRAN MENGGUNAKAN CITRA SUBBOTTOM PROFILER DI PERAIRAN TARAKAN KALIMANTAN TIMUR
Samilah
Jurusan ilmu kelautan
Sebaran sedimen dilaut dangkal
Abstrak
Eksplorasi dasar laut khususnya sumber daya non
hayati telah banyak dilakukan untuk mengetahui karakteristik suatu perairan
dengan menggunakan metode akustik bawah laut seperti yang telah dilakukan di
cekungan Tarakan. Cekungan Tarakan merupakan daerah yang memiliki kedalaman
yang sangat curam. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya endapan sedimen di
cekungan tersebut. Komposisi sedimen di cekungan Tarakan dapat menjelaskan
kondisi dasar perairan. Pengambilan data lapangan dilakukan dengan menggunakan
kapal survey Geomarin III milik Pusat Penelitian Pengembangan Geologi Kelautan
(P3GL), Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral, pada tanggal 15-21 September
2012 diperairan Tarakan, Kalimantan Timur. Data yang digunakan berupa data
arus, sedimen, dan pemeruman dasar laut. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode deskriptif dan metode pengambilan data primer dengan menggunakan
sistem DGPS (Differential Global Positioning System) C-NAV. Analisi data arus
dilakukan dengan menggunakan CD Oseanografi, data sedimen di 19 (Sembilan
belas) titik menggunakan analisi megaskopis, analisis data pemeruman dengan
menggunakan interpretasi menggunakan software petrel 2008. Hasil penelitian
menunjukan Perairan Tarakan dikategorikan perairan dalam dengan kedalaman 5000
meter dengan morfologi dasar berupa cekungan dengan slope yang sangat curam.
Sedimen yang mengisi cekungan tarakan berasal dari arah daratan (Barat) menuju
ke arah laut lepas (timur) yaitu sedimen pasir, pasir lanauan, lanau pasiran,
lanau dengan kecepatan arus laut pada lapisan permukaan (31.70 cm/detik),
lapisan tengah (32.72 cm/detik), dan lapisan dalam (40.51 cm/detik).
Interpretasi Sub-bottom profiler (SBP) menggambarkan gradasi warna yang
menceritakan lapisan dasar laut berupa lapisan batuan sedimen permukaan yang
mengendap dari butiran kasar menuju butiran halus dengan kecepatan
pengendapan.yang beragam Hasil tersebut menunjukan sebaran sedimen yang terjadi
berasal dari dataran Pulau Kalimantan dan terendapkan di laut lepas.
Kata Kunci : Arus, Sedimen, Sub-Bottom Profiler
(SBP), Tarakan
Abstract
Seafloor exploration, especially non-biological
resources have been carried out to investigate the characteristics of a body of
water using underwater acoustic method as was done in the Tarakan basin. Tarakan
Basin is an area that has a very steep morphology depth. These conditions
resulted in the deposition of sediment in the basin . The composition of the
sediment in the Tarakan basin can explain the condition of the bottom waters.
Collection of field data used Geomarin III survey ship owned by the development
research center of Marine Geology
(P3GL), Ministry of Energy and Mineral Resources, on 15-21 September 2012 in
Tarakan waters, East Kalimantan. The data used in the form of curren data,
sediment , and
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 27
seafloor sounding. Research using descriptive method
and method of primary data collection system using DGPS (Differential Global
Positioning System) C-NAV. Analysis data is done by use CD Oceanographic
currents, sediment data in 19 (nineteen) points using megaskopis analysis, analysis data
using the interpretation of the seafloor soundings using software petrel
2008. The results showed Tarakan waters categorized with a depth of 5000 meters
in the form of basic morphology of the basin with a very steep slope. Tarakan
basin filled sediment from inland (West) towards the open sea (east) the
sediments of sand, silt sand, sandy silt, silt with a speed of ocean currents
on the surface layer (31.70 cm/second), the middle layer (32.72 cm/second), and
the inner layer (40.51 cm/second). Interpretation of Subbottom profiler (SBP)
describe shades that tell the seabed layer of sedimentary rock layers that
settle from the surface to the coarse grained with deposition speed varied
results showed the distribution of sediment that occurs comes from the plains
of the island of Borneo, and sediment in high seas.
Keywords : Flow, Sediment, Sub-Bottom Profiler
(SBP), Tarakan
I. Pendahuluan Indonesia sebagai negara kepulauan
yang memiliki wilayah pesisir yang kaya dan beragam akan sumber daya alam dan
jasa-jasa lingkungan. Negara kepulauan yang memiliki garis pantai sepanjang
81.000 km termasuk negara kedua yang memiliki garis pantai. Luas wilayah laut negeri
Indonesia, termasuk didalamnya zona ekonomi ekslusif, mencakup 5,8 juta
kilometer persegi, atau sekitar tiga perempat dari luas keseluruhan wilaya
Indonesia (Dahuri, 2002). Survei hidrografi umumnya banyak dimanfaatkan untuk
memetakan dasar laut yang digunakan untuk berbagai kegiatan di laut seperti
pengerukan, navigasi, pengendalian sedimentasi dan banjir. Kondisi hidrografi
di suatu perairan mengalami perubahan tanpa batas waktu tertentu. Perubahan
kondisi hidrografi umumnya disebabkan oleh beberapa faktor seperti pengikisan
pantai oleh gelombang, sedimentasi, penggunaanlahan di wilayah pesisir, dan
lain sebagainya (Dianovita, 2011). Batimetri adalah proses penggambaran dasar
perairan sejak pengukuran, pengolahan, hingga visualisasinya (Poerbandono et.
al.,2005).Kondisi batimetri di perairan merupakan hal yang sangat penting dalam
hubungannya dengan pemanfaatan ruang di daerah pantai (Rampengan, 2009). Dasar laut Indonesia terbagi menjadi tiga
struktur besar yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan Indo-Australia.
Lempeng Eurasia mencakup pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan yang memiliki
struktur laut dangkal karena adanya paparan sunda yang stabil dan memiliki
endapan dari lumpur dan lumpur berpasir. Lempeng Pasifik dan Indo-Australia
berperan dalam pembentukan Indonesia bagian timur, struktur dasar lautnya lebih
kompleks dengan adanya deretan pulau - pulau yang berbentuk busur lengkung,
dipisahkan oleh laut dalam yang mempunyai palung maupun gunung bawah laut dan
memiliki endapan lumpur asal darat maupun lumpur vulkanik (Nontji, 2007).
Berdasarkan ciri – ciri tersebut maka sedimen dasar laut di Indonesia tersusun
oleh komponen sedimen endapan terigenik yang berasal dari batuan maupun
aktivitas vulkanik dan endapan biogenik yang berasal dari aktivitas organisme.
Sedimen di lingkungan laut yang dalam terdiri dari komponen biogenik yaitu
berupa endapan cangkang organisme dan komponen terigenik berupa batuan berbutir
halus dan mineral (Witasari, 2003). Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian
ini perlu dilakukan untuk mengetahui mengetahui kondisi dasar di perairan
Tarakan Kalimantan Timur berdasarkan hasil pemeruman dasar laut.
II. Materi dan Metode Penelitian Penelitian lapangan
dilakukan pada tanggal 15 – 21 September 2012 diperairan Tarakan, Kalimantan
Timur. Lingkup penelitan terletak pada koordinat 3°14'23"-3°26'37" LU
117°30'50" - 117°40'12" BT (Gambar 8). Selanjutnya analisa
laboratorium dilakukan pada bulan November 2012 di laboratorium P3GL Cirebon
dan Kantor P3GL Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu
meneliti suatu kondisi di alam dengan interpretasi yang sistematis, aktual,
cermat dan tepat. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran
faktual dan akurat mengenai fakta-fakta serta hubungan fenomena-fenomena yang
diamati (Nasir, 1983). Sedangkan metode pengambilan data seperti penentuan
lokasi sampling sedimen, Subbottom Profiler (SBP) dan arus dengan menggunakan
metode pertimbangan (Purposive Sampling Method) yaitu menentukan lokasi
pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan - pertimbangan tertentu dari
peneliti (Sudjana, 1992). Metode yang diterapkan dalam penentuan titik
koordinat lokasi yaitu dengan menggunakan Sistem penentuan posisi kapal
menggunakan sistem DGPS (Differential Global Positioning System) C-NAV yang
dapat memberikan ketelitian pengukuran posisi hingga 0.1 meter. Pengukuran
kedalaman dasar laut dilakukan dengan menggunakan Echosounder SyQuest Bathy
2010 frekuensi sekitar 3.5 kHz, karena daerah survei termasuk perairan dalam
(lebih dari 1000 m).
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 28
Peralatan ini bekerja mengirim pulsa suara, menerima
pulsa terpantul oleh dasar laut, dan kemudian mengolahnya untuk dihitung
kedalaman lautnya berdasarkan asumsi cepat rambat suara di air laut 1500
meter/detik. Dari data kedalaman terkoreksi dihasilkan suatu peta batimetri
sehingga dapat diketahui gambaran topografi dasar laut. Data pemeruman
digunakan untuk mendapatkan data kedalaman laut sebagai bahan pembuatan peta
kedalaman laut atau peta batimetri, mengetahui morfologi dasar laut dan
kemantapan lereng dasar laut (PPGL, 2004). Pengambilan 19 sampel sedimen dasar laut
dilakukan menggunakan alat gravity core. Alat ini berbentuk tabung yang
ditambahkan beban sebesar 300 kg. Kemudian, diluncurkan dari atas kapal dan
setelah mencapai kedalam tertentu atau lebih dekat maka alat ini kan di
jatuhkan bebas sehingga alat akan masuk kedalam lapisan sedimen tertentu. Data
arus diukur sepanjang 12 km dari 118o10’45,82 BT ; 3o19’17,46 LS sampai
118o0’33,05” BT ; 3o21’59,15” LS. Pengukuran karakteristik arus dilakukan
dengan menggunakan metode Langrangian dengan menggunakan peralatan Acoustic
Doppler Current Profiler (ADCP) Workhorse Rio Grande 600 kHz diletakkan di
bawah kapal dan pengukuran arus mengikuti lintasan yang sudah ditentukan.
Metode analisis data kedalaman menggunakan perangkat Schlumberger Petrel 2008,
Sedimen menggunakan metode pengayakan
melainkan dengan metode analisa megaskopis, Citra-citra Subbottom Profiler
menggunakan perangkat lunak MapInfo 7.5 SCP. pemodelan 3D dasar laut
menggunakan perangkat lunak Petrel 2008, dan pengolahan data arus dengan
menggunakan CD Oseanografi.
Hasil dan Pembahasan Pemeruman Dasar Laut Hasil pengolahan data pemeruman dasar laut
menggunakan perangkat lunak Petrel Schlumberger 2008 menunjukkan kontur
kedalaman dasar serta penggunaanya untuk pembuatan model 3 dimensi topografi
dasar Perairan Tarakan, Kalimantan Timur. Peta Batimetri 3 Dimensi Perairan
TarakanKalimantan Timur (Gambar 2), tersusun berdasarkan hasil data pengukuran
laut berupa nilai X dan Y sebagai koordinat dan nilai Z sebagai kedalaman.
Berdasarkan peta Batimetri 3 Dimensi tersebut, bentuk morfologi sub cekungan
Tarakan dapat tergambar dengan baik. Dalam peta tersebut digabungkan dengan
data SBP dengan menggunakan alat pemeruman Chirp Sub-bottom Profiler Bathy 2010
(Gambar 3). Hasil dari kedua proses tersebut menunjukan terjadinya
singkronisasi antara lingkungan pengendapan sedimen dari data pemeruman dasar
laut. Hasil tersebut diperoleh berdasarkan pengukuran kedalaman laut dilakukan
sepanjang lintasan Kapal Geomarin 3 milik instansi Pusat Penelitian
Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL). Data-data yang diperoleh dari kedua model
tersebut akan digunakan untuk pengolahan sebaran sedimen.
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 29
Sedimen Dasar Laut. Hasil klasifikasi ukuran butir
sedimen dasar laut ditampilkan dalam tabel 1 yang merupakan gambaran sampel
sedimen diambil hingga kedalaman 5000 meter. Tebal lapisan sedimen yang didapat
bervariasi sesuai dengan kemampuan sedimen untuk melekat pada paralon core
Hasil klasifikasi ukuran butir sedimen dasar di
Perairan Tarakan Kalimantan Timur Nama Stasiun Kedalaman Perairan (m) Tebal
Lapisan (cm) Nama sedimen Stasiun 1 93 32 Pasir Stasiun 2 468 82 Pasir Lanauan
Stasiun 3 85 72 Pasir Lanauan Stasiun 4 56 80 Pasir Lanauan Stasiun 5 2554 98
Lanau Stasiun 6 1950 115 Lanau Stasiun 7 2480 110 Lanau Stasiun 8 2256 127
Lanau Stasiun 9 1394 108 Lanau Stasiun 10 1401 122 Lanau Stasiun 11 1153 124
Lanau Pasiran Stasiun 12 1376 115 Lanau Stasiun 13 618 145 Pasir Lanauan
Stasiun 14 572 103 Pasir Lanauan Stasiun 15 702 135 Lanau Pasiran Stasiun 16
585 138 Pasir Lanauan Stasiun 17 522 127 Lanau Pasiran Stasiun 18 1250 198
Lanau Pasiran Stasiun 19 442 123 Pasir Lanauan Sumber :Pengolahan Data Primer
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Hasil pengamatan terhadap sembilan belas
microorganisme terutama foraminifera sampel stasiun 1 dan stasiun 19 pelagik
laut dalam yaitu foraminifera plankton yang bercangkang kabonat dan mineral.
Analisis megaskopis menunjukan bahwa sampel sedimen yang diamati adalah jenis sedimen
(1992) menyatakan bahwa sedimen hidup seperti cangkang dan rangka biota laut
serta bahan atau merupakan sisa dari organisme yang mengandung karbonat, opal,
dan kalium fosfat diamati berasal dari laut dalam dengan kedalaman laut
mencapai dalam memiliki tekstur sedimen masif atau laminasi, butirannya relatif
seragam dan berukuran halus, berkisar 62 antar lanau sampai pasir sangat halus.
Berdasarkan analisis ukuran butir untuk menginterpretasi proses yang telah
berlangsung. kemudian digunakan sebagai masukkan pada peta sebaran sedimen
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman
pengamatan terhadap sembilan belas sampel sedimen
yang diamati mengandung cangkang terutama foraminifera. Fragmen organik berupa
karbon sisa tumbuhan ditemukan pada 19. Komponen penyusun sedimen umumnya
terdiri dari endapan biogenik pelagik laut dalam yaitu foraminifera plankton
yang bercangkang kabonat dan mineral. Analisis megaskopis menunjukan bahwa
sampel sedimen yang diamati adalah jenis sedimen biogeneuos sedimen biogeneuos
adalah sedimen yang bersumber dari sisa organisme hidup seperti cangkang dan
rangka biota laut serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi atau
merupakan sisa dari organisme yang mengandung karbonat, opal, dan kalium fosfat
rasal dari laut dalam dengan kedalaman laut mencapai 2500 meter, secara teori
sedimen laut dalam memiliki tekstur sedimen masif atau laminasi, butirannya
relatif seragam dan berukuran halus, berkisar 62 antar lanau sampai pasir
sangat halus. alisis ukuran butir ini dapat digunakan untuk memprediksi
pergerakan sedimen dan untuk menginterpretasi proses yang telah berlangsung.
Persentase data sedimen yang telah digunakan sebagai masukkan pada peta sebaran
sedimen.
sampel sedimen yang diamati
mengandung cangkang Fragmen organik berupa karbon sisa tumbuhan ditemukan pada
dari endapan biogenik pelagik laut dalam yaitu foraminifera plankton yang
bercangkang kabonat dan mineral. Analisis biogeneuos. Kennet dalah sedimen yang
bersumber dari sisa organisme bahan organik yang mengalami dekomposisi atau
merupakan sisa dari organisme yang mengandung karbonat, opal, dan kalium
fosfat. Sedimen yang 500 meter, secara teori sedimen laut dalam memiliki
tekstur sedimen masif atau laminasi, butirannya relatif seragam dan berukuran
halus, memprediksi pergerakan sedimen dan telah didapatkan, Peta Sebaran
Sedimen dan Batimetri daerah Perairan Tarakan, Kalimantan Timur eta Sebaran Sedimen dan Batimetri daerah
Perairan Tarakan, Kalimantan Timur .
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
Berdasarkan hasil Peta
Sebaran Sedimen di Perairan Tarakan (Gambar sedimen berupa sedimen pasir.
Persebaran butir menjadi semakin kecil atau halus yaitu pasir lanauan, lanau
pasiran sedimen, mempunyai pengaruh terhadap energi pengendapannya. kemungkinan
sedimen tersebut membutuhkan energi yang besar untuk mengendap atau terbawa.
Sebaliknya, jika semakin kecil atau halus ukuran butirnya, maka kemungkinanan
sedimen tersebut tidak memerlukan energi yang besar untuk mengendap atau
terbawa. Hal ini dapat dihubungkan dengan studi tersebut. Menurut Noon dkk.,
(2003) sistem delta. Sistem delta merupakan sistem pengendapan yang paling
produktif dalam menghasilkan hidrokarb Dengan demikian pemasukan sedimen yang
paling besar ke dalam perairan Tarakan berasal dari daratan Kalimantan Timur
yang melalui sungai-sungainya.
Rekaman Sub-Bottom Profiler (SBP). Hasil
interpretasi SBP menunjukan adanya lapisan pengendapan di Perairan Tarakan.
Hasil pengamatan lintasan pertama memiliki variasi sedimen yang terendapkan,
dimana sedimen yang terendapkan mulai dari dekat pantai sampai laut lepas
adalah pasir, pasir lanauan dan lanau. Bila dilihat dari hasil interpretasi dan
hasil pengambilan sedimen, dapat diketahui bahwa sedimen mengendap dari butiran
kasar menuju butiran halus. Menurut halus dari prodelta. Di mana ke arah timur
ukuran sedimen menjadi lebih halus dan membentuk system delta. disebabkan oleh
transportasi yang besar dan pengendapan yang relatif cepat Hasil pengamatan
lintasan kedua memiliki variasi sedimen yang terendapkan, dimana sedimen yang
terendapkan adalah pasir lanauan, lanau pasiran dan lanau. Hasil perekaman
antara lintasan satu dan dua memiliki persamaan, dikarenakan pada lintasan dua
terpeng ditambahkan bahwa stasiun dua juga dipengaruhi oleh kondisi dekat
dengan muara Tarakan. Menurut (2005), sumber-sumber utama sedimen permukaan
dasar laut daerah selidikan arah barat, jajaran-jajaran kepulauan terumbu
berarah barat laut-tenggara. Hasil pengamatan lintasan ketiga menunjukan bahwa
sedimen diwilayah tersebut tersusun dari lana hasil tersebut berbeda dengan
lintasan pertama dan kedua. Hal ini dikarenakan sedimen tersebut terjebak
dengan sitem pengendapan adalah sistem delta. Kondisi tersebut menyebabkan
pembagian sub wilayah pengendapan yang terjadi tidak terbagi rata, yang
dibuktikan dengan data sebaran sedimen berbeda. Sistem delta yang ada di
Tarakan ini menjadikan daerah kajian ini mempunyai pembagian alur sedimen yang
berbeda. dapat diketahui bahwa input sedimen daratan Kalimantan Timur, melalui aliran
dimana sedimen berupa pasir terendapkan di dekat daratan atau di muara sungai
dan ke arah laut lepas uk sedimen berangsur halus. Perpindahan atau
pengangkutan sedimen terjadi bila ada arus yang bekerja dan biasanya arahnya
mengikuti arah arus tersebut. Namun sedimen yang lebih halus terjebak dalam
sistem tersebut. Lintasan keempat dilakukan pengambilan data arah dekat
perbatasan laut malaysia menuju perairan Kalimantan. Lintasan ini memotong
antara lintasan pertama, kedua dan ketiga. Berdasarkan data yang diperoleh,
menunjukan bahwa hasil perpotongan daerah tersebut dominan dengan jenis sedimen
lanau. Sedimen ini biasanya cenderung lebih halus. Bila dilihat dari penampilan
batimetri,
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman
Peta Sebaran Sedimen, Batimetri dan SBP (Sub-bottom
Profile) daerah Perairan Tarakan, Kalimantan Timur
hasil Peta Sebaran Sedimen di Perairan Tarakan
(Gambar 4) dari arah daratan sebelah kiri peta Persebaran ke arah laut dalam
yaitu dari arah barat ke timur laut Sulawesi butir menjadi semakin kecil atau
halus yaitu pasir lanauan, lanau pasiran, lanau dan lanau. Pada ukuran butir
sedimen, mempunyai pengaruh terhadap energi pengendapannya. Dengan meningkatnya
ukuran butir, maka but membutuhkan energi yang besar untuk mengendap atau
terbawa. Sebaliknya, jika semakin kecil atau halus ukuran butirnya, maka
kemungkinanan sedimen tersebut tidak memerlukan energi yang besar untuk
mengendap atau terbawa. Hal ini dapat dihubungkan dengan keberadaan arus laut
yang melalui daerah studi tersebut. Menurut Noon dkk., (2003) dalam Wijaya
(2009) sistem pengendapan di Cekungan Tarakan adalah sistem delta. Sistem delta
merupakan sistem pengendapan yang paling produktif dalam menghasilkan hidrokarb
masukan sedimen yang paling besar ke dalam perairan Tarakan berasal dari
daratan Kalimantan
Bottom Profiler (SBP). Hasil interpretasi SBP
menunjukan adanya lapisan-lapisan dasar laut yang merupakan sedimen hasil
pengendapan di Perairan Tarakan. Hasil pengamatan lintasan pertama memiliki variasi
sedimen yang terendapkan, dimana sedimen yang terendapkan mulai dari dekat
pantai sampai laut lepas adalah pasir, pasir lanauan dan lanau. dilihat dari
hasil interpretasi dan hasil pengambilan sedimen, dapat diketahui bahwa sedimen
mengendap dari butiran kasar menuju butiran halus. Menurut Purwanti (2009),
kearah timur sedimen berubah facies menjadi batu timur ukuran sedimen menjadi
lebih halus dan membentuk system delta. sebabkan oleh transportasi yang besar
dan pengendapan yang relatif cepat. Hasil pengamatan lintasan kedua memiliki
variasi sedimen yang terendapkan, dimana sedimen yang terendapkan adalah pasir
lanauan, lanau pasiran dan lanau. Hasil perekaman antara lintasan satu dan dua
memiliki persamaan, dikarenakan pada lintasan dua terpengaruhi oleh adanya
masukan sedimen dari daratan. Lebih lanjut ditambahkan bahwa stasiun dua juga
dipengaruhi oleh kondisi dekat dengan muara Tarakan. Menurut sumber utama
sedimen permukaan dasar laut daerah selidikan teramati adalah sungai Berau dari
jajaran kepulauan terumbu gamping dan sumber sedimen marin dengan lokasi jalur
lepas pantai
Hasil pengamatan lintasan ketiga menunjukan bahwa
sedimen diwilayah tersebut tersusun dari lana hasil tersebut berbeda dengan
lintasan pertama dan kedua. Hal ini dikarenakan sedimen tersebut terjebak
dengan sitem pengendapan adalah sistem delta. Kondisi tersebut menyebabkan
pembagian sub wilayah pengendapan yang yang dibuktikan dengan data sebaran
sedimen berbeda. Sistem delta yang ada di Tarakan ini menjadikan daerah kajian ini
mempunyai pembagian alur sedimen yang berbeda. Berdasarkan hal tersebut maka
dapat diketahui bahwa input sedimen yang paling besar ke dalam perairan
Sub-cekungan Tarakan berasal dari aliran sungai-sungainya. Menurut Manengkey,
(2010), pola sebaran sedimen dimana sedimen berupa pasir terendapkan di dekat
daratan atau di muara sungai dan ke arah laut lepas uk sedimen berangsur halus.
Perpindahan atau pengangkutan sedimen terjadi bila ada arus yang bekerja dan
biasanya arahnya mengikuti arah arus tersebut. Namun sistem delta yang terjadi
di perairan Tarakan mengakibatkan adanya s terjebak dalam sistem tersebut.
lakukan pengambilan data dari arah utara menuju selatan atau bisa dikatakan
berada dari arah dekat perbatasan laut malaysia menuju perairan Kalimantan.
Lintasan ini memotong antara lintasan pertama, a dan ketiga. Berdasarkan data
yang diperoleh, menunjukan bahwa hasil perpotongan daerah tersebut dominan
dengan jenis sedimen lanau. Sedimen ini biasanya cenderung lebih halus. Bila
dilihat dari penampilan batimetri, dari arah daratan sebelah kiri peta laut
Sulawesi, ukuran . Pada ukuran butir ukuran butir, maka but membutuhkan energi
yang besar untuk mengendap atau terbawa. Sebaliknya, jika semakin kecil atau
halus ukuran butirnya, maka kemungkinanan sedimen tersebut tidak memerlukan
energi yang keberadaan arus laut yang melalui daerah Wijaya (2009) sistem
pengendapan di Cekungan Tarakan adalah sistem delta. Sistem delta merupakan
sistem pengendapan yang paling produktif dalam menghasilkan hidrokarbon. masukan
sedimen yang paling besar ke dalam perairan Tarakan berasal dari daratan
Kalimantan yang merupakan sedimen hasil pengendapan di Perairan Tarakan. Hasil
pengamatan lintasan pertama memiliki variasi sedimen yang terendapkan, dimana
sedimen yang terendapkan mulai dari dekat pantai sampai laut lepas adalah
pasir, pasir lanauan dan lanau. dilihat dari hasil interpretasi dan hasil
pengambilan sedimen, dapat diketahui bahwa sedimen mengendap dari earah timur
sedimen berubah facies menjadi batu timur ukuran sedimen menjadi lebih halus
dan membentuk system delta. Hal ini Hasil pengamatan lintasan kedua memiliki
variasi sedimen yang terendapkan, dimana sedimen yang terendapkan adalah pasir
lanauan, lanau pasiran dan lanau. Hasil perekaman antara lintasan satu dan dua
memiliki aruhi oleh adanya masukan sedimen dari daratan. Lebih lanjut
ditambahkan bahwa stasiun dua juga dipengaruhi oleh kondisi dekat dengan muara
Tarakan. Menurut Ranawijaya h sungai Berau dari gamping dan sumber sedimen
marin dengan lokasi jalur lepas pantai.
Hasil pengamatan lintasan ketiga menunjukan
bahwa sedimen diwilayah tersebut tersusun dari lanau, dimana hasil tersebut
berbeda dengan lintasan pertama dan kedua. Hal ini dikarenakan sedimen tersebut
terjebak dengan sitem pengendapan adalah sistem delta. Kondisi tersebut
menyebabkan pembagian sub wilayah pengendapan yang yang dibuktikan dengan data
sebaran sedimen berbeda. Sistem delta yang ada di Tarakan Berdasarkan hal
tersebut maka cekungan Tarakan berasal dari pola sebaran sedimen dimana sedimen
berupa pasir terendapkan di dekat daratan atau di muara sungai dan ke arah laut
lepas ukuran butir sedimen berangsur halus. Perpindahan atau pengangkutan
sedimen terjadi bila ada arus yang bekerja dan biasanya sistem delta yang
terjadi di perairan Tarakan mengakibatkan adanya dari arah utara menuju selatan
atau bisa dikatakan berada dari arah dekat perbatasan laut malaysia menuju
perairan Kalimantan. Lintasan ini memotong antara lintasan pertama, a dan
ketiga. Berdasarkan data yang diperoleh, menunjukan bahwa hasil perpotongan
daerah tersebut dominan dengan jenis sedimen lanau. Sedimen ini biasanya
cenderung lebih halus. Bila dilihat dari penampilan batimetri,
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014
dapat diketahui daerah ini merupakan d core,
merupakan daerah pengendapan sedimen lanau. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pada daerah slope ini adalah daerah pengendapan yang terbawa dari pantai
menuju laut.
JURNAL
OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun
2014
dapat diketahui daerah ini merupakan daerah slope
yang sangat terjal. Berdasarkan data yang diperoleh dari gravity core,
merupakan daerah pengendapan sedimen lanau. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pada daerah slope ini adalah daerah pengendapan yang terbawa dari pantai
menuju laut.
Interpretasi
SBP (Sub-Bottom Profiler) Lintasan 1
Interpretasi
SBP (Sub-Bottom Profiler) Lintasan 2
Interpretasi
SBP (Sub-Bottom Profiler) Lintasan 3
Interpretasi
SBP (Sub-Bottom Profiler) Lintasan 4
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 32
aerah slope
yang sangat terjal. Berdasarkan data yang diperoleh dari gravity core,
merupakan daerah pengendapan sedimen lanau. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa pada daerah slope
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 33
Arus Laut. Berdasarkan data yang telah didapat,
kemudian dibagi menjadi tiga bagian menurut kedalamannya, (1) arus laut lapisan
permukaan 0,2d (4,94 meter – 19,94 meter), (2) lapisan tengah 0,6d (20,94 meter
– 34,94 meter), dan (3) lapisan dalam 0,8d (35,94 meter – 50,94 meter) yang
ditampilkan dalam gambar 22 - gambar 24 berikut. Tabel 2 merupakan hasil
kecepatan perekaman data arus laut. Tabel 2. Hasil kecepatan arus di Perairan
Tarakan Kedalaman Kolom Air Laut (meter) Kecepatan Maximal (cm/det) Kecepatan
Min (cm/det) Kecepatan Rata-rata (cm/det) Arah Permukaan (4,94 – 19,94) 83.29
0.78 31.70 Selatan Tengah (20,94 -34,94)
63.40 7.03 32.72 Barat Daya Dalam (35,94 – 50,94) 86.25 6.49 40.51 Barat Daya
Gambar 11.
Arah dan Kecepatan Hasil Data Arus Laut Lapisan Permukaan (4,94 – 19,94 meter)
Berdasarkan hasil data arus laut di lapangan yang
telah diolah menggunakan program CD Oceanography pada lapisan permukaan (Gambar
19.), lapisan tengah (Gambar 20.) dan lapisan dalam (Gambar 21) menghasilkan
bahwa arah arus dominan dari tiap lapisan sama-sama condong ke arah tenggara.
Berdasarkan tabel 2, hasil kecepatan arus pada tiap lapisan tidak jauh berbeda.
Hal ini dapat disebabkan karena jumlah muara sungai yang banyak terdapat pada daerah
sebelah barat lokasi studi. Kondisi ini dapat menggambarkan bahwa arus tersebut
adalah arus ARLINDO yang berasal dari Samudera Pasifik masuk ke Selat Makassar.
Efriyeldi (1999) menyatakan bahwa kecepatan dan arah arus secara tidak langsung
dapat mempengaruhi substrat dasar perairan. Nybakken (1992) menyatakan bahwa
perairan yang arusnya kuat akan banyak ditemukan substrat berpasir.
Kesimpulan
1. Perairan
Tarakan dapat di kategorikan sebagai perairan dalam yang memiliki kedalaman
laut hingga 5000 meter dengan morfologi dasar berupa cekungan dengan slope yang
sangat curam. 2. Sebaran sedimen di cekungan Tarakan berasal dari arah daratan
(barat) menuju ke arah laut lepas (timur) yaitu sedimen pasir, pasir lanauan,
lanau pasiran, lanau. 3. Hasil
interpretasi Sub-bottom profiler (SBP) menggambarkan gradasi warna yang dapat
menceritakan lapisan dasar laut berupa lapisan batuan sedimen permukaan yang
diendapkan pada lingkungan berenergi rendah dengan kecepatan pengendapan yang
beragam.
Ucapan Terima Kasih 1.
Terima Kasih Kepada Prof. Dr. Ir. Muhammad Zainuri, DEA dan Ir. Purwanto, MT
atas waktu, tenaga, dan pemikirannya sehingga dapat membimbing dalam penyusunan
tugas akhir 2. Terima kasih kepada Pusat Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL)
yang telah memberi kesempatan untuk bisa diikut sertakan dalam pelayaran,
terutama kepada Bapak Priatin Hadi wijaya ST, MT (selaku Kepala Penelitian dan
Pembimbing lapangan) sehingga bisa tersusunya tugas akhir ini. 3. Terima Kasih
kepada Bapak Beben Rachmat, S.Si (Peneliti P3GL) yang telah memberikan info
Pelayaran Tarakan Kalimantan. 4. Terima kasih kepada semua Crew Pelayaran Pulau
Tarakan Kalimantan baik Peneliti, Teman Mahasiswa, Teknisi, Kapten Kapal, ABK
dan semua yang terlibat yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Daftar
Pustaka
Dahuri, R, dkk. 1996. Pengelolaan Sumber Daya
Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. P.T. Pradnya Paramitha, Jakarta, 305
hlm Dianovita, C. 2011. Pemetaan Batimetri Perairan Dangkal Karang Congkak dan
Karang Lebar Dengan Menggunakan Citra IKONOS Pan-Sharpened. Skripsi. Departemen
Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor.42 hlm. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan
Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta Kennet, J.P.
1982. Marine Geology. Pritince-Hall, Inc. Englewood Cliffs. New Jersey. Nasir,
M. 1983. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia, Jakarta, 622 hlm. Nontji, A.
2007. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta Noon, S., Harrington, J., dan Darman,
H. (2003), The Tarakan Basin, East Kalimantan: Proven neogen fluviodeltaic,
prospective deep-water and paleogen plays in a regional stratigraphic context,
Proceedings of Indonesian Petroleum Association 29th Annual Convention,
Jakarta, Vol.1
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 3, Nomor 1, Tahun 2014, Halaman 35
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut : suatu
pendekatan ekologis. PT Gramedia : Jakarta 480 hlm P3GL. 2004. Laporan
Identifikasi Potensi Energi dan Sumberdaya Mineral Pulau – pulau kecil Snngihe
Talaud Sulawesi Utara. Departemen ESDM. Bandung PoerbandonodanDjunarsjah, E.
2005.SurveiHidrografi. PT. RefikaAditama. Bandung.163 hlm. Rampengan, R.M.,
2009. Bathimetry in Mokupa’s Coastal Waters.JurnalPerikanandanKelautan.Vol V
(3): 68-72. Ranawijaya D.A.S. Dewi K.T. dan Antasena Y. 2003. Peranan
mikrofosil dalam isu perubahan iklim global: sebuah hasil riset dari kerjasama
ekspedisi geologi kelautan. Prosiding Seminar Riptek Kelautan Nasional BPPT:1-8
Witasari, Y. 2003. Sedimen di Selat Sunda: Komposisi, Asal –Usul, Proses
Pengendapan dan Pengaruh